Leluka - the extremely poor





Oleh Muhammad Natsir Tahar

Menjadi miskin memang tak enak. Untuk memperoleh korek api saja orang miskin terlebih dahulu harus berkeringat. Mereka sepanjang hari membanting tulang untuk reward yang tak sepadan. Tidak ada liburan akhir pekan, tidak ada tabungan masa depan, tidak ada asuransi pendidikan, dan tidak ada rencana mengoleksi perhiasan. Orang miskin bekerja hari ini adalah untuk makan keesokan harinya. Terus begitu dan begitu-begitu terus. Berulang-ulang.
Jika si miskin sedikit ingin bergaya atau membeli entah apa saja di luar kebutuhan perut mereka, maka biasanya si miskin akan dicegat oleh seorang bijak bestari untuk membisikkan ke telinga mereka: “Jangan besar pasak dari pada tiang, pak long”.
Bila si papa mendambakan sesuatu yang jauh dari jangkauan kemampuan mereka, maka ia segera terkena majas alegori: Seperti Pungguk Merindukan Bulan. Bahasa kasarnya: tunggulah sampai kucing bertanduk atau sampai keluar air mata darah pun engkau tak kan dapat.
Lingkungan dan kultur seolah telah menulis di kening orang-orang susah: jangan menghayal tinggi-tinggi, karena kalau jatuh sakitnya tak berperi. Jadi jangan salahkan jika orang-orang miskin biasanya memasang level imajinasi tidak lebih tinggi dari atap rumah mereka.

Misalnya begini: dapat makan pagi petang, sudahlah. Anak-anak tak mungkin sekolah tinggi-tinggi, dapat tulis baca saja, jadilah. Rumah tak perlu besar-besar, dapat untuk berteduh dari panas dan hujan, tak apa-apalah. Isteri tak perlu molek, punya mata punya hidung, mantaplah. Daripada menjadi Pendekar Bujang Lapuk.
Begitulah ruang pikir orang-orang miskin, yang selalu melihat kondisinya sebagai pakem. Mereka menganggap, dirinya dilahirkan dengan seperangkat tulang miskin yang masif dan tak mungkin membuatnya menjadi kaya. Mereka merasa percuma saja memberontak dari nasib. Mereka nyaris tidak pernah berpikir out of the box yang kemudian menjadi paradoks.
Orang-orang miskin dibantai oleh orang kaya tak punya hati untuk dieksploitasi, dimobilisasi, dijual, dilecehkan, dihina, diusir dan ditunjuk-tunjuk batang hidungnya. The have menghegemoni the have not. Orang-orang jetset menjadikan orang miskin paling miskin yang mereka sebut the extremely poor sebagai parameter untuk mengukur kekayaan mereka. Semakin besar jurang memisahkan mereka, maka si kaya akan merasa makin kaya.
Orang-orang kaya yang anti sosial menganggap si miskin yang mengetuk pintu rumah mereka laksana teror sepanjang masa. Susah payah mereka mengumpulkan harta dunia, eh tiba-tiba sicompang-camping ini meminta-minta seenaknya, begitu pikir si kaya. “Maaf tidak ada uang kecil,” ini kata paling lunak yang biasanya terucap. Penolakan kasar dapat berupa gonggongan anjing penjaga atau atau diseret-seret satpam bermental cyborg – setengah orang setengah robot – yang kadang-kadang lebih arogan dari sang majikan, meski isi kantongnya setali tiga uang dengan si miskin.
Orang-orang miskin sekuler, menganggap kemiskinan seperti pisau belati berkarat yang menusuk-nusuk dada, kaki, tangan dan benak mereka setiap hari. Kemiskinan telah menyampakkan mereka ke panas terik, ke dalam kubangan lumpur, ke laut ganas, ke hutan belantara, ke tempat-tempat kotor bahkan menjijikkan. Mereka hitam legam, berkarat, berdebu, berurat dan meranggas, hanya untuk bergelut mencari sepiring nasi.
Mereka putus asa dan akhirnya kemiskinan itu menimbulkan bibit-bibit kebencian kepada Tuhan. Mereka menganggap Tuhan tidak adil karena hanya bermaksud meniupkan roh ke dalam jasad mereka untuk menjadi orang susah. Mereka membayangkan Tuhan tertawa dan bertepuk tangan karena telah berhasil membuat mereka menderita sepanjang hari.

Mereka menganggap Tuhan menjadikan mereka sebagai tontonan di kala senggang, semakin susah semakin asyik ditonton. Itulah sebab mengapa agama tidak membiarkan umatnya larut dalam kemiskinan karena kefakiran dapat mendekatkan diri kepada kekufuran.
Orang miskin yang soleh, akan berpikir sebaliknya. Mereka mengangap kemiskinan adalah ujian hidup yang jika dihadapi dengan kesabaran dan rasa syukur yang tiada berkurang, akan diganjar surga Firdaus yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.

Di mata Allah, derajat orang kaya tidak lebih mulia dari si miskin, yang menjadi ukuran adalah keimanan mereka. Justru di akhirat kelak urusan orang kaya akan lebih panjang dari si miskin. Waktu hisab mereka di Padang Ma’syar berjarak 50 tahun, karena posting harta si kaya akan diaudit sedetil-detilnya, diperoleh dari mana dan dibelanjakan kemana?
Ada dua alternatif untuk orang miskin yang soleh, menempuh jalan zuhud dengan meninggalkan urusan dunia dan mengasingkan diri dengan ilmu-ilmu tarekat, atau mencoba menyeimbangkan dunia dan akhirat sesuai tuntunan agama: mengejar kepentingan akhirat seolah-olah mati esok hari dan mengejar kepentingan dunia seolah-olah hidup seribu tahun. Ini adalah soal pilihan dan masing-masing memiliki dasarnya sendiri-sendiri. Tak perlu ada friksi, setidaknya dari kacamata awam. ~MNT

Comments