Metafilsafat

 

Ilustrasi: Shutterstock


Oleh Muhammad Natsir Tahar


Socrates adalah penggambaran yang tepat untuk para pemikir filsafat. Ia terus bertanya dan mematahkan jawabannya. Socrates tidak berguna pada masanya, pun kini. Filsafat adalah sang pembunuh waktu bagi mereka yang butuh fungsi. Filsafat dibenci bahkan diburu karena ia adalah pemenang atas hampir semua debat.

Filsafat melihat semua orang tidak berpijak di atas tanah. Mereka hanya bertahan dengan cara menyedihkan di atas lapisan es yang di bawahnya adalah air yang dasarnya jauh. Prinsip, nilai-nilai, dogma, budaya, dan teori apapun oleh siapapun, akan ditanya ulang oleh filsafat. Filsafat mungkin tak punya teman, ia menyudut dan menghindari perdebatan.

Orang-orang yang belajar filsafat adalah orang yang membenturkan kepalanya ke tembok. Saya melihat mereka membaca teks – teks yang sulit. Dalam bahasa Indonesia saja sudah sulit, mereka bahkan membaca teks asing dan mendiskusikannya. Semua jawaban atas pertanyaan dianggap rapuh, mereka akan bertanya apalagi yang ada di balik jawaban, di baliknya lagi, dan terus, sampai jawaban itu melakukan serangan balik atas pertanyaan.

Tapi filsafat adalah talenta yang dibawa sejak lahir. Orang – orang bisa saja membaca berbagai-bagai buku filsafat atau langsung kuliah di jurusan itu, tapi memberhentikan filsafat menjadi sebatas ingatan, lalu bertekun kepada hal-hal permukaan, agar bisa makan.

Filsafat dalam sejarah kesendiriannya pernah diajak berdamai oleh teologi. Paling tidak oleh Ibn Rusyid atau Averroes (1126—1198) atau Thomas Aquinas (1225–1274). Tapi hubungan itu tidak langgeng, filsafat memiliki sifat agnostik, tidak betah berlama-lama dalam opium dogma.

Aristoteles membuat gejala ini menjadi mungkin. Ia meletakkan Tuhan terlalu tinggi, mengawali semuanya dan membiarkan dunia sibuk sendiri. Epicurus atau Demokritus, para filsuf alam ini sejak awal ingin melepas Tuhan. Ribuan tahun setelah, misalnya Ludwig Feuerbach (1804-1872) melahirkan filsafat materialisme, satu aliran filsafat yang radikal, sehingga filsafat tersudut pada stigma dapur pacu bagi ateisme.

Seharusnya siapapun yang percaya kepada teori Darwin akan tergelincir kepada peniadaan Tuhan dalam penciptaan. Atau tentang teori Big Bang yang melihat bumi sebagai super debu kosmik, dengan mengapa Tuhan hanya fokus pada sebutir debu, dalam kemahaluasan jagat. Di dalam super debu itu, Tuhan muncul secara parsial, partisan, dan terfragmentasi. Disembah oleh 4.200 agama di dunia.

Satu sisi lain dari filsafat adalah meninggikan Tuhan melebihi para penganut yang hanya bergantung pada teks, ketika dogma membentengi dirinya pada pertanyaan akal. Iman menjadi pembenar, walaupun filsafat melihatnya tuhan sebagai tidak logis.

Pertanyaan filsafat akan muncul pada paradoksal Tuhan, misalnya. Apakah Tuhan mampu menciptakan benda terberat sehingga Dia sendiri tidak mampu mengangkatnya. Apapun jawaban atas pertanyaan ini akan melemahkan kemahakuasaan Tuhan. Seharusnya bisa karena Tuhan punya sifat maha kuasa (omnipotent), tapi ketika itu bisa dilakukan dan Tuhan tidak bisa mengangkat benda tersebut, maka kemahakuasaan Tuhan menjadi batal.

Filsafat yang tidak terburu-buru akan memandang Tuhan sebagai maha tahu (omniscient) tanpa kecuali, ketika dogma bahkan menjadi elastis. Misalnya ketika Tuhan menciptakan surga dan neraka, Dia pasti tahu siapa yang akan menjadi penghuninya. Dalam proses itu apakah Tuhan tega membiarkan ciptaannya sendiri berbuat dosa, atau tersenyum melihat calon penghuni neraka berbuat baik di dunia.

Filsafat pernah melakukan kawin cerai, telah terjadi perselingkuhan antara nalar dan iman. Di sepanjang Dark Age, teologi telah muncul sebagai sang dominan, pengekang filsafat sekaligus pendera sains. Di situ kemudian filosof diburu dan ilmuan dibantai, dituduh penyihir.

Benarkah filsafat musuh agama? Mungkin bisa meminjam Immanuel Kant, yang dengan agnotismenya, menjaga batas-batas nalar dan agama justru secara rasional dan dari perspektif nalar. Artinya bila tidak kuat, filsafat dan agama tidak saling mengurusi, demikian pula sains yang “radikal”.

Filsafat disebutkan memiliki masalah pada dirinya. Karl Popper berpikir bahwa hal yang perlu diperbaiki dalam penalaran adalah masalah pendekatan induksi. Ini perlu didekati melalui metode falsifikasi_ adalah kebalikan dari verifikasi, yaitu pengguguran teori lewat fakta-fakta.

Filsafat adalah detektif kebijaksanaan yang andal. Tapi ia membutuhkan kecerdasan transendental. Artinya sanggup menjalin keterhubungan transenden dengan dimensi yang lebih luhur.

Ini menjadi sulit dalam banyak teori filsafat kontemporer, misalnya eksistensialisme atau nihilisme. Yang menolak hal – hal metafisika atau di luar fisika, di luar yang terindra.

Kita perlu melarikan diri ke metafilsafat_ yakni hal-hal yang melampaui filsafat. Di atas kekukuhannya yang sulit dipatahkan oleh nalar pembanding, filsafat harus dilihat dari sisi yang mampu melampauinya. Yakni transendental, yang bersifat ilahi. Tuhan! Apapun pertanyaan tentangnya, sebaiknya tidak dijawab dengan akal. ~MNT


Comments